SALAFY

Posted by Kuman Galak on Senin, 04 April 2016



ANALISA AKHLAK PESERTA DIDIK TERHADAP PENDIDIK MENURUT
AL-NAWAWI DAN AL-GHAZALI
BAB I
A.    Latar Belakang Masalah
Persoalan akhlak adalah persoalan besar bagi umat Islam, karena keberadaannya yang menjad penentui eksistensi seorang muslim sebagai makhluk Allah, sebagai bagian dari tatanan masyarakat. Akhlak merupakan lamvang kualitas seorang muslim, masyarakat, dan umat. Akhlak merupakan bagian dari nilai-nilai Islam yang membumi yang terjelma dalam perilaku konkret seorang muslim ditengah perannya sebagai hamba Allah, sebagai saudara, sebagai anak dan juga sebagai peserta didik yang sekarang menjadi masalah yang fundamental dalam menuntut ilmu. Akhlak peserta didik terutama kepada pendidik merupakan masalah utama yang mana seorang pesrerta didik harus membiasakan akhlak yang baik. Membiasakan akhlak baik merupakan penentu terbentuknya karakter peserta didik yang berperilaku mulia.
Agar peserta didik dapat mengamalkan akhlak yang baik maka ia harus mengetahui teori-teori tentang bagaimana ia harus berakhlak yang telah banyak dijabarkan oleh para ulama’. Diantara ulama’ yang menyampaikan konsep tentang akhlak peserta didik terhadap pendidik tersebut ialah Al-Nawawi dan Al-Ghazali. Tidak dipungkiri bahawa keduanaya adalah tokoh yang terkenal luas keilmuannya dan ternyata keduanya sama-sama membahas akhlak peserta didik terhadap pendidik dalam beberapa karyanya ini menunjukkan betapa pentingnya akhlak tersebut untuk diketahaui.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengangkat judul
“ANALISA AKHLAK PESERTA DIDIK TERHADAP PENDIDIK MENURUT AL-NAWAWI DAN ALGHAZALI”.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yanag telah ditelaah pada karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi?
2.      Bagaimana akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Ghazali?
3.      Bagaimana analisa akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi dan Al-Ghazali?
C.    Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan karya ilmiah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi.
2.      Untuk mengetahui akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Ghazali.
3.      Untuk mengetahui  analisa akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi dan Al-Ghazali.










BAB II
AKHLAK, PESERTA DIDIK DAN BIOGRAFI
A.    AKHLAK
1.      Pengertian Akhlak
Secara etimologi akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai tingkah laku, tabiat yang disinonimkan dengan etika moral.
Sedangkan secara terminologi adalah suatu bentuk (naluri asli) dalam jiwa seseorang manusia manusia yang dapat melahirkan suatu tindakan dan kelakuan dengan mudah dan sopan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Yang dimaksud melahirkan tindakan dan kelakuan ialah suatu yang dijelamakan anggota lahir manusia, misalnya tangan, mulut, demikian juga yang dilahirkan oleh anggota batin yakni hati yang tidak dibuat-buat. Kalau kebiasaan yang tidak dibuat-buat itu baik disebut akhlak yang terpuji dan kalau yang kebiasaan buruk disebut akhlak tercela. Jadi, dapat kita simpulkan awal perbuatan yang itu lahir melalui kebiasaan yang mudah tanpa adanya pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu. Apabila ia melakukan hal tersebut karena dorongan oleh hati yang tulus, ikhlas, dari rasa kebaikannya atau kasihannya sesama manusia maka ia dapat dikatakan berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Jadi akhlak adalah masalah kejiwaan bukan masalah perbuatan. Sedangkan yang tampak berupa perbuatan gejala akhlak.
2.      SUMBER AKHLAK
Sumber akhlak ada 2 yaitu bersumber pada agama dan akhlak yang bersumber bukan pada agama atau sekolah.

1.      Akhlak yang bersumber pada agama
Yaitu akhlak yang bersumber dari keagamaan atau kepercayaan kepada yang ghaib seperti Tuhan, ruh, malaikat dan sejenisnya. Akhlak yang bersumber dari agama ini akan membimbing umat manusia dalam hubungannya dengan tuhan dan sekaligus dalam hubungannya dengan sesama manusia atau sesama makhluk. Akhlak yang bersumber pada agama meliputi:
a.       Al-Quran
Al-Quran sebagai sumber utama dan pertama bagi agama islam yang mengandung bimbingan, petunjuk, penjelas dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Alquran juga berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan alam lingkungan.
b.      Al-Sunnah
Al-sunnah merupakan sumber akhlak dalam Islam. Sebagai contoh kongkret pelaksanaan wahyu Allah yang tertuang dalam Al-Quran. Nabi Muhammad dijadikan sebagai sumber akhlak yang dijadikan teladan bagi umatnya.


2.      Akhlak yang bersumber bukan pada agama atau sekuler
Adalah akhlak yang bersumber dari hasil budaya manusia belaka tanpa mempertimbangkan adanya keturunan ghaib (Tuhan), akhlak sekular ini hanya membimbing manusia dalam hubungannya dengan manusia dan ukuran baik dan buruk ang digunakan pun hanya dipandang dari sudut kemanusiaan belaka.
Dari berbagai sumber akhlak yang bukan agama itu pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Insting
Yaitu semacam suara hati kecil (naluri). Dengan insting manusia memiliki kepekaan untuk menilai perbuatan orang yang baik dan yang buruk.
b.      Pengalaman
Dalam pandangan ini, akhlak akan dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman manusia dalam kehidupannya. Dari hasil pengalaman manusia, maka perbuatan tersebut dapat dikatakan bak atau buruk. Oleh karena itu, norma dalam masyarakat akan selalu berubah dan berbeda-beda sesuai dengan pengalaman yang dilalui serta adanya pengaruh perkembangan zaman.
3.      Macam-macam Akhlak
Akhlak dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1.      Akhlak Terpuji
Akhlak terpuji merupakan Akhlak Karimah yang mulia. Akhlak yang baik itu dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik pula yaitu sesuai dengan ajaran Allah SWT dan  Rasulnya. Misalnya:
a.       ‘iffah
‘iffah atau ta’affuf  merupakan salah satu sifat terpuji yang harus ada pada diri seseorang. Iffah  artinya menahan diri dari segala hal yang
tidak halal dengan mensyukuri nasib yang telah diterimanya baik berupa harta maupun kehormatan.
b.      Musawwah
Musawwah berasal dari bahasa arab yaitu sawwa,  yang mempunyai arti sama atau dapat diartikan juga sebagai mempersamakan keadaan yang serupa dengan yang lainnya. Perbedaan penciptaan manusia bukan untuk tujuan saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Akan tetapi bertujuan agar saling mengenal dan menghargai satu sama lainnya.
c.       Sabar
Sabar  artinya tahan dari ujian, tahan menderita, menerima apa yang tidak disenangi dengan perasaan rida dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Setiap orang beriman pasti akan diberi ujian, baik berupa kesenangan atau kesusahan. Dalam menghadapi ujian yang berupa ketidaksenangan, kita harus menghadapinya dengan sabar. Karena hanya orang yang sabar dapat mengatasi segala macam ujian, sehingga sampai kepada yang dituju yaitu dari Allah SWT.
2.      Akhlak Tercela
Akhlak tercela adalah akhlak Madzmumah atau akhlak yang tidak terpuji. Akhlak tercela ialah akhlak yang lahir dari sifat-sifat yang tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT. Misalnya:
a.       Hasad
Hasad adalah suatu sifat dengki kepada seseorang atau perasaan tidak rela jika orang lain mendapatkan suatu kenikmatan kebahagiaan, keberuntungan atau karunia Allah SWT. Sifat dengki merupakan salah satu penyakit hati yang dapat merusak kualitas amal ibadah seseorang. Sifat hasad merupakan sifat yang mengandung kebencian terhadap orang lain, kebencian terhadap ketentuaan atau ketetapan Allah SWT atas nikmat yang diberikan pada orang lain.
b.      Sombong
Sombong atau takabur merupakan sifat tercela yang artinya merasa diri lebih baik, lebih besar atau lebh tinggi dari orang lain, baik keduduka, keturunan maupun lainnya. Jika sifat sombong terus merasuki jiwa seseorang, maka akan menimbulkan sifat egois, membanggakan diri, tidak mau dikritik dan tidak mau menerima saran serta nasihat dari orang lain. Selain akan mendapatkan kehancuran di dunia, orang yang sombong akan masuk ke dalam neraka jahanam.
c.       Tamak
Tamak adalah sifat suka menumpuk harta dengan menghalalkan segala cara dan merugikan orang lain. Sifat tamak merupakan sifat dari orang yang tidak puas serta serakah terhadap harta atau kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepadanya. Orang yang tamak, hidupnya tidak pernah tenang. Karena hatinya tidak pernah bersyukur kepada Allah SWT.
B.     PESERTA DIDIK
1.      Pengertian Peserta Didik
Secara etimologi peserta didik adalah anak didik atau indvidu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan serta dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap peserta didik memiliki eksistensi atau kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat.
Dengan diakuinya keberadaan seseorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan, arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau kedewasaaan sesuai dengan kedewasaannya.


2.      Karakteristik Peserta Didik
Karakteristik peserta didik adalah keseluruhan kelakuan yang ada pada peserta didik sebagai hasil pembawaan dan lingkungan sosialnya sebagai menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.Dengan demikian penentuan tujuan belajar itu sebenarnya harus dikaitkan atau disesuaikan dengan keadaanatau karakteristik peserta didik itu sendiri.ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam karakteristikpesesrta didik yaiyu
A.Karakteristik atau berkenan dengan kemampuan awal.
      Misanya:Kemampuan berfikir kemampuan intelektaual.
B.Karakteristik yang berhubungan latar belakang dan status sosial.
      Misalnya:Kehiduapan dalam keluarga dan sekitar lingkunganya.
C.Karakteristik yang berkenan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian
      Misalnya:sikap perasaan minat.



C. BIOGRAFI
1. Biografi Al-Nawawi
Beliau adalah Yahya bin syaraf bin hasan bin husain an-nawawi ad-dimasyqiy abu zakaria.Beliai dilahirkan pada bulan muharram tahun 631 h di nawa sebuah kampung du daerah dimasyq {damascus} yang sekarang merupakan ibukota sariah.beliau dididik oleh ayah beluai yang terkenal dengan kesalehan dan ketaqwaan.beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.
An-Nawawi tinggal di nawa hingga berusia 18 tahun.kemudian pada tahun 649 h ia memulai rihlah thalabul ilmi-nya ke dimadyq dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut.ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-jami Al-umaiy.jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukaanya utama .disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari.ia rajin sekali dan menghafal banyak hal.ia pun menggungguli teman-temannya yang lain.
Pada tahun 615 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Medinah dan menetap disana selamasatu setengah bulan lalu kembali ke Damasyq. Pada taun 665 H ia mengajar di Darul Hadist Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.
Beliau digelari Muhyiddin (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena tawadhu’ beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya.
Imam Al-Nawawi adalah seorang yang suhud wara’ dan bertakwa. Beliau sederhana, qanaah, dan berwibawa. Beliau menggunakn banyak waktu beliau dalam ketaatan sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk terhadap penguasa, dengan cara yang telah digariskan islam. Imam Nawawi meningalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar 40 kitab diantaranya:
a.      Dalam bidang hadist : Arba’in, Riyadhus Shalihin Al-Minhaj (Syarah shahih Muslim) At-Taqrib wat taysir fi ma’rifat sunan Al-basyirin Nadzir.
b.      Dalam bidang bahasa : Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
c.       Dalam bidang akhlak : At-Tibyan fi Adab Hanalatil Qur’an, bustanul Arifin, Al-Adzkar.
Kitab kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah ta’ala, kemudian keihlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.
2.      Biografi Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul islam (argumentator islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga islam dari pengaruh ajaran Bid’ahdan aliran rasionalisme yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertetapan dengan 1059 M di Ghazalah suatu kota kecil yang terletak di Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Beliau dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin woll sekaligus sebagai pedagang hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunai semangat keagamaan yang tinggi, seperti terlihat pada simpatinya kepada ulama yang mengharapkan anaknya menjadi ulama yang selalu memberi nasehat pada umat. Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (imam Al-Ghazali)dan saudaranya (ahmad), ketika itu masih kecil dititipkan kepada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan. Meskipun dibesarkan dalam keadaan keluarga yang sederhana tidak menjadikan beliau merasa rendah atau malas, justru beliau semangat dalam mempelajari ilmu pengetahuan, dikemudian beliau menjelma menjadi ulama besar dan seorang sufi.
Perjalanan imam Ghazali dalam melalui pendidikannya diwilayah kelahirannya. Pada ayahnya beliau belajar Al-Quran dan dasar-dasar ilmu keagama yang lain, dilanjutkan di Thus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Setelah beliau belajar pada teman ayahnya (seorang ahli tasawuf), ketika beliau tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan keduanya, beliau mengajarkan mereka masuk ke sekolah untuk memperoleh selain ilmu pengetahuan. Beliau mempelajari pokok Islam (al-qur’an dan sunnah nabi). Diantara kitab-kitab karya beliau antara lain:
a.       Ayyuhal Walad
b.      Bidayatul Hidayah
c.       Minhaj Al-Abidin
d.      Mizan Al-Amal
e.       Ihya ‘Ulumuddin

BAB III
MENURUT AL-NAWAWI  DAN AL-GHAZALI
A.    Akhlak Peserta Didik Terhadap Pendidik Meburut Al-Nawawi
Pemikiran Al-Nawawi tentang akhlak peserta didik terhadap pendidik sebagai berikut:
1.      Menahan dari kekerasan atau marahnya pendidik.
2.      Menolak gunjingan terhadap pendidiknya jika mampu, bila tidak mampu hendaknya meninggalkan majelis tersebut.
3.      Bersikap tawadhu’(rendah diri) terhadap pendidik dan terhadap ilmu.
4.      Tidak masuk ruangan pendidik sebelum meminta izin.
5.      Ketika peserta didik menemui terhadap pendidik, hendaknya ia dalam keadaan yang sempurna budi pekertinya, yaitu dengan bersuci menggunakan siwak.
6.      Peserta didik tidak diperbolehkan melangkahi pundak atau lehernya orang-orang dalam memindah tempat duduknya.
7.      Jika orang lain mendahulukannya atau mengutamakannya maka janganlah menerima.
8.      Duduk dihadapan pendidik sebagaimana duduknya orang-orang yang belajar bukan seperti duduknya pendidik.
9.      Apabila pendidik melakukan kekerasan (marah) terhadap peserta didik hendaknya peserta didik meminta memulai meminta maaf.
10.  Apabila hadir di majelisnya pendidik dan tidak menemuinya, maka harus menunggu dan tetap tinggal di pintunya.
11.  Bersikap ta’dzim (sopan santun atau beradap) terhadap pendidik.
12.  Peserta didik tidak boleh mengeraskan suara tanpa ada keperluan.
13.  Hendaknya peserta didik bersikap patuh terhadap pendidik.
14.  Wajib bagi peserta didik ketika memandang pendidik dengan pandangan yang memuliakan dan meyakini kesempurnaannya.
15.  Tidak belajar kepada pendidik dalam kondisi hati yang sedang sibuk, jenuh. Hendaknya peserta didik pergi belajar terhadap pendidik di awal siang.

B.     Akhlak Peserta Didik Terhadap Pendidik enurut Al-Ghazali
Menurut Al-Ghazali akhlak peserta didik terhadap pendidik sebagai berikut:
1.      Mendahului melakukan penghormatan dan mengucap salam serta meminta izin ketika akan memasuki ruangan.
2.      Meminimalkan pembicaraan yang sifatnya biasa dihadapan pendidik.
3.      Tidak membicarakan apa yang tidak ditanyakan oleh pendidik.
4.      Meminta izin terlebih dahulu sebelum menanyakan sesuatu hal kepada pendidik.
5.      Ketika mendapat ketidaksesuaian dalam keterangan yang disampaikan pendidik, maka peserta didik tidak mengatakan : “ Seseorang mengatakan tidak sama dengan ucapanmu “.
6.      Tidak menunjukkan perbedaan pendapat kepada pendidik sehingga peserta didik mengira bahwa ia lebih mengetahui perkara yang benar dalam suatu permasalahan. Hal ini mengurangi nilai tata krama terhadap pendidik dan mengurangi barakah.
7.      Tidak bertanya atau tidak mengobrol dengan teman duduk di majelis pendidik, dan tidak tersenyum ketika pendidik berbicara.
8.      Tidak menoleh kemana-mana, ke kanan dan ke kiri di hadapan pendidik, melainkan duduk dengan menundukkan pandangan, bersikap tenang, bertata krama, dengan tidak bermain-main dengan tangan misalnya, seakan-akan berada dalam sholat.
9.      Tidak banyak bertanya kepada pendidik ketika tampak kebosanannya dan kerisauannya karena sedih meskipun hanya sebatas praduga yang kuat.
10.  Apabila seorang pendidik berdiri maka hendaklah peserta didik juga berdiri karena menghormatinya dn peserta didik tidak boleh menarik pakaiannya ketika berdiri.
11.  Ketika pendidik berdiri dari majlis, peserta didik tidak langsung menyuguhkan pembicaraan dan pertanyaannya.
12.  Tidak menanyai pendidik di tengan perjalanannya, melainkan menunggu sehingga pendidik sampai di rumahnya atau tempat duduknya.
13.  Tidak berburuk sangka kepada pendidik, dalam perbuatan-perbuatan yang secara lahiriah terlihat kurang baik menurut peserta didik karena pendidik itu lebih mengetahui rahasia di balik perbuatannya tersebut. Dan ketika akan muncul buruk sangka di dalam hati hendaklah peserta didik mengingat ucapan Nabi Musa kepada Nabi Khidir yang mengingkari sesuatu yang secara lahiriyah kelihatan salah, yaitu merusakkan perahu yang dapat membahayakan jiwa penumpangnya,  “ Apakah engkau melubangi perahu itu untuk menenggelamkan? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang kontrofersial sekali”. Dan hendaklah peserta didik meyakini bahwa rasa ingkarnya terhadap pendidik dengan hanya berpegang pada perkara yang tampak secara lahiriyah itu merupakan kesalahan dan hendaklah ia mengingat-ingat bahwa pendidik itu mengetahui rahasia di balik perbuatannya, sebagaimana diriwayatkan bahwa Ibnu Araby pernah sholat lalu murid-muridnya melihat berkali-kalia menggerakkan kakinya dalam sholat tersebut. Setelah selesai sholat mereka bertanya, “ Mengapa engkau menggerakkan kakimu?”. Lalu beliau menjawab, “ Sesungguhnya Syaikh Fakhr ar- Razi sedang mengalami sakaratul maut, lalu syaitan-syaitan segera melakukan usaha untuk mencabut keimanannya. Maka aku mengusir mereka darinya dengan kakiku sehingga ia meninggal dalam keadaan iman”.

C.    Analisa Akhlak Peserta Terhadap Pendidik Menurut Al-Nawawi dan Al-Ghazali
Akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi dan Al-Ghazali ternyata dapat dikelompokkan dalam beberapa tema akhlak sebagai berikut:
1.      Sifat Sabar
Menurut Al-Nawawi yang termasuk sabar yaitu menahan dari kekerasan atau marahnya pendidik. Apabila hadir di majelis dan tidak menemuinya, maka harus menunggu dan tetap tinggal di pintunya. Menurut Al-Ghazali yang termasuk sabar yaitu ketika pendidik berdiri dari majelis, peserta didik tidak langsung menyuguhkan pembicaraan dan pertanyaan. Tidak menanyai pendidik di tengah perjalanannya, melainkan menunggu sehingga pendidik sampai di rumahnya atau tempat duduknya.
2.      Sifat Sopan
Menurut Al-Nawawi yang termasuk soapn yaitu ketika peserta didik masuk terhadap pendidik hendaknya ia dalam keadaan sempurna budi pekertinya, yaitu dengan bersuci menggunakan siwak. Tidak masuk ruangan pendidik sebelum meminta izin. Peserta didik tidak diperbolehkan melangkahi pundak atau lehernya orang-orang dan memindah tenpat duduknya, Duduk dihadapan pendidik sebagaimana duduknya orang-orang yang belajar bukan seperti duduknya pendidik. Bersikap ta’dzim (sopan santun atau beradap) terhadap pendidik. Peserta didik tidak boleh mengeraskan suara tanpa ada keperluan. Menurut Al-Ghazali yang termasuk sopan yakni Meminimalkan pembicaraan yang sifatnya biasa dihadapan pendidik, Meminimalkan pembicaraan yang sifatnya biasa dihadapan pendidik, Meminta izin terlebih dahulu sebelum menanyakan sesuatu hal kepada pendidik, Ketika mendapat ketidaksesuaian dalam keterangan yang disampaikan pendidik, maka peserta didik tidak mengatakan : “ Seseorang mengatakan tidak sama dengan ucapannya “,Tidak menoleh kemana-mana, ke kanan dan ke kiri di hadapan pendidik, melainkan duduk dengan menundukkan pandangan, bersikap tenang, bertata krama, dengan tidak bermain-main dengan tangan misalnya, seakan-akan berada dalam sholat.
3.      Sifat Rendah Hati (Tawadhu’)
Menurut Al-Nawawi yang termasuk rendah hati yakni Bersikap tawadhu’(rendah diri) terhadap pendidik dan terhadap ilmu, Wajib bagi peserta didik ketika memandang pendidik dengan pandangan yang memuliakan dan meyakini kesempurnaannya, Menolak gunjingan terhadap pendidiknya jika mampu, bila tidak mampu hendaknya meninggalkan majelis tersebut. Menurut Al-Ghazali yang termasuk rendah hati yakni tidak berburuk sangka kepada pendidik.


4.      Sifat Tenggang Rasa
Menurut Al-Nawawi yang termasuk tenggang rasa yakni Apabila pendidik melakukan kekerasan (marah) terhadap peserta didik hendaknya peserta didik meminta memulai meminta maaf,  Tidak belajar kepada pendidik dalam kondisi hati yang sedang sibuk, jenuh. Hendaknya peserta didik pergi belajar terhadap pendidik di awal siang. Menurut Al-Ghazali yang termasuk tenggang rasa yakni Tidak membicarakan apa yang tidak ditanyakan oleh pendidik, Tidak menunjukkan perbedaan pendapat kepada pendidik sehingga peserta didik mengira bahwa ia lebih mengetahui perkara yang benar dalam suatu permasalahan.
5.      Sifat Menghormati
Menurut Al-Nawawi yang termasuk menghormati yakni Jika orang lain mendahulukannya atau mengutamakannya maka janganlah menerima, Hendaknya peserta didik bersikap patuh terhadap pendidik. Menurut Al-Ghazali yang termasuk menghormati yakni Mendahului melakukan penghormatan dan mengucap salam serta meminta izin ketika akan memasuki ruangan, Tidak bertanya atau tidak mengobrol dengan teman duduk di majelis pendidik, dan tidak tersenyum ketika pendidik berbicara, Tidak banyak bertanya kepada pendidik ketika tampak kebosanannya dan kerisauannya karena sedih meskipun hanya sebatas praduga yang kuat, Apabila seorang pendidik berdiri maka hendaklah peserta didik juga berdiri karena menghormatinya dn peserta didik tidak boleh menarik pakaiannya ketika berdiri.








BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari bab-bab sebelumnya dan didasarkan pada rumusan masalah, maka penulis dapat memberi kesimpulan sebagai berikut:
1.      Akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut AlNawawi adalah menahan marahnya pendidik, menolak gunjingan, bersikap tawadhu’ (rendah diri), tidak masuk ruangannya sebelum meminta izin, masuk terhadapnya dalam keadaan suci, memulai meminta maaf, apabila ingin menemuinya dan tidak menemuinya harus menunggu, sopan santun, tidak boleh mengeraskan suara tanpa ada keperluan, harus bersikap patuh terhadapnya, memandang dengan pandangan mulia.
2.      Akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Ghazali adalah mengucap salam dan meminta izin ketika memasuki ruangannya, meminimalkan pembicaraan yang sifatnya biasa, tidak berbicara yang tidak ditanyakan, meminta izin sebelum bertanya, tidak menunjukkan perbedaan pendapat kepadanya, tidak bertanya atau mengobrol dengan teman di majelisnya, bertata krama, menghormatinya, tidak menanyainya di tengah jalan dan tidak berburuk sangka kepadanya.



3.      Analisa akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi dan Al-Ghazali menyimpulkan beberapa tema akhlak yakni:


a.       Sikap sabarsikap
b.      Sikap sopan
c.       Sikap rendah hati
d.      Sikap tenggang rasa
e.       Sikap menghormati
B.     Saran-saran
1.      Akhlak yang baik harus dimiliki seseorang peserta didik, karena dengan akhlak yang baik segala sesuatu akan bermakna dihadapan siapapun, terutama di era globalisasi ini banyak pengaruh buruk yang masuk, maka dari itu perbaikilah akhlak kita. Karena akhlak yang baik merupakan pondasi untuk menghindari perbuatan negatif, seperti yang ada di zaman sekarang ini.
2.      Marilah kita terapkan akhlak peserta didik terhadap pendidik dalam lingkungan belajar, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
C.    Penutup
Dengan memanjatkan rasa syukur terhadap allah, penulis dapat menyelesaikan karya tulis Ilmiah ini. Penulis sadar karya tulis Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan. Demi menyempurnakan karya tulis Ilmiah ini, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan. Akhir kata, penulis hanya berharap semoga karya tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Syarafuddin, Yahya. t.t. Al-tibyan fi adab hamalat al-Quran al-Ma’had al-Islam      salafi.
Muhammad Al-Ghazali, Abu Hamid,t.t. Bidayatul Hidayah. Surabaya: al-Miftah.
Nipan Abdul Halim, Muhammad. 2000. Menghias Diri dengan Akhlak Terpuji. Yogyakarta : Mitra Pustaka.
Nuru Sobai, Ali. t.t. Aqidah Akhlak. Depok: CV Arya Duta.













BIODATA PENULIS
Nama Penulis              : FAJRIYA KUNIAWATI binti MUHAMMAD KASDAN
Tempat, Tgl Lahir       : Ponorogo, 30 Januari 1997
Pendidikan                  : RA. Muslimat Sukosari
                                      SDN II Sukosari
             MTs Darul Huda (Pon.Pes Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo)
 MA Darul Huda (Pon.Pes Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo)
            Alamat                        : jl. Hj. Irsad no. 30 Sukosari Babadan Ponorogo
            Motto                          : Jadi orang penting itu baik, tapi lebih penting jadi orang baik










Blog, Updated at: 00.07

0 komentar:

Posting Komentar

Like Us

Diberdayakan oleh Blogger.