ANALISA AKHLAK PESERTA DIDIK TERHADAP PENDIDIK MENURUT
AL-NAWAWI DAN AL-GHAZALI
BAB I
A.
Latar Belakang Masalah
Persoalan akhlak adalah persoalan besar bagi umat Islam, karena
keberadaannya yang menjad penentui eksistensi seorang muslim sebagai makhluk
Allah, sebagai bagian dari tatanan masyarakat. Akhlak merupakan lamvang
kualitas seorang muslim, masyarakat, dan umat. Akhlak merupakan bagian dari
nilai-nilai Islam yang membumi yang terjelma dalam perilaku konkret seorang
muslim ditengah perannya sebagai hamba Allah, sebagai saudara, sebagai anak dan
juga sebagai peserta didik yang sekarang menjadi masalah yang fundamental dalam
menuntut ilmu. Akhlak peserta didik terutama kepada pendidik merupakan masalah
utama yang mana seorang pesrerta didik harus membiasakan akhlak yang baik.
Membiasakan akhlak baik merupakan penentu terbentuknya karakter peserta didik
yang berperilaku mulia.
Agar peserta didik dapat mengamalkan akhlak yang baik maka ia harus
mengetahui teori-teori tentang bagaimana ia harus berakhlak yang telah banyak
dijabarkan oleh para ulama’. Diantara ulama’ yang menyampaikan konsep tentang
akhlak peserta didik terhadap pendidik tersebut ialah Al-Nawawi dan Al-Ghazali.
Tidak dipungkiri bahawa keduanaya adalah tokoh yang terkenal luas keilmuannya
dan ternyata keduanya sama-sama membahas akhlak peserta didik terhadap pendidik
dalam beberapa karyanya ini menunjukkan betapa pentingnya akhlak tersebut untuk
diketahaui.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengangkat judul
“ANALISA AKHLAK PESERTA DIDIK TERHADAP PENDIDIK MENURUT AL-NAWAWI
DAN ALGHAZALI”.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yanag telah ditelaah pada karya ilmiah ini
adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi?
2.
Bagaimana
akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Ghazali?
3.
Bagaimana
analisa akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi dan
Al-Ghazali?
C.
Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan karya ilmiah ini adalah:
1.
Untuk
mengetahui akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi.
2.
Untuk
mengetahui akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Ghazali.
3.
Untuk
mengetahui analisa akhlak peserta didik
terhadap pendidik menurut Al-Nawawi dan Al-Ghazali.
BAB II
AKHLAK, PESERTA DIDIK DAN BIOGRAFI
A.
AKHLAK
1.
Pengertian Akhlak
Secara etimologi akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang
berarti budi pekerti, perangai tingkah laku, tabiat yang disinonimkan dengan
etika moral.
Sedangkan secara terminologi adalah suatu bentuk (naluri asli)
dalam jiwa seseorang manusia manusia yang dapat melahirkan suatu tindakan dan
kelakuan dengan mudah dan sopan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Yang dimaksud melahirkan tindakan dan kelakuan ialah suatu yang dijelamakan
anggota lahir manusia, misalnya tangan, mulut, demikian juga yang dilahirkan
oleh anggota batin yakni hati yang tidak dibuat-buat. Kalau kebiasaan yang
tidak dibuat-buat itu baik disebut akhlak yang terpuji dan kalau yang kebiasaan
buruk disebut akhlak tercela. Jadi, dapat kita simpulkan awal perbuatan yang
itu lahir melalui kebiasaan yang mudah tanpa adanya pemikiran dan pertimbangan
terlebih dahulu. Apabila ia melakukan hal tersebut karena dorongan oleh hati
yang tulus, ikhlas, dari rasa kebaikannya atau kasihannya sesama manusia maka
ia dapat dikatakan berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Jadi akhlak adalah
masalah kejiwaan bukan masalah perbuatan. Sedangkan yang tampak berupa
perbuatan gejala akhlak.
2.
SUMBER AKHLAK
Sumber akhlak ada 2 yaitu bersumber pada agama dan akhlak yang
bersumber bukan pada agama atau sekolah.
1.
Akhlak
yang bersumber pada agama
Yaitu
akhlak yang bersumber dari keagamaan atau kepercayaan kepada yang ghaib seperti
Tuhan, ruh, malaikat dan sejenisnya. Akhlak yang bersumber dari agama ini akan
membimbing umat manusia dalam hubungannya dengan tuhan dan sekaligus dalam
hubungannya dengan sesama manusia atau sesama makhluk. Akhlak yang bersumber
pada agama meliputi:
a.
Al-Quran
Al-Quran
sebagai sumber utama dan pertama bagi agama islam yang mengandung bimbingan,
petunjuk, penjelas dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Alquran juga
berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan alam lingkungan.
b.
Al-Sunnah
Al-sunnah
merupakan sumber akhlak dalam Islam. Sebagai contoh kongkret pelaksanaan wahyu
Allah yang tertuang dalam Al-Quran. Nabi Muhammad dijadikan sebagai sumber
akhlak yang dijadikan teladan bagi umatnya.
2.
Akhlak
yang bersumber bukan pada agama atau sekuler
Adalah
akhlak yang bersumber dari hasil budaya manusia belaka tanpa mempertimbangkan
adanya keturunan ghaib (Tuhan), akhlak sekular ini hanya membimbing manusia
dalam hubungannya dengan manusia dan ukuran baik dan buruk ang digunakan pun
hanya dipandang dari sudut kemanusiaan belaka.
Dari
berbagai sumber akhlak yang bukan agama itu pada dasarnya dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu:
a.
Insting
Yaitu
semacam suara hati kecil (naluri). Dengan insting manusia memiliki kepekaan
untuk menilai perbuatan orang yang baik dan yang buruk.
b.
Pengalaman
Dalam
pandangan ini, akhlak akan dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman manusia dalam
kehidupannya. Dari hasil pengalaman manusia, maka perbuatan tersebut dapat
dikatakan bak atau buruk. Oleh karena itu, norma dalam masyarakat akan selalu
berubah dan berbeda-beda sesuai dengan pengalaman yang dilalui serta adanya
pengaruh perkembangan zaman.
3.
Macam-macam Akhlak
Akhlak dibagi
menjadi dua macam, yaitu:
1.
Akhlak
Terpuji
Akhlak
terpuji merupakan Akhlak Karimah yang mulia. Akhlak yang baik itu dilahirkan
oleh sifat-sifat yang baik pula yaitu sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Rasulnya. Misalnya:
a.
‘iffah
‘iffah
atau ta’affuf merupakan salah satu sifat terpuji yang harus ada
pada diri seseorang. Iffah artinya menahan diri dari segala hal yang
tidak halal
dengan mensyukuri nasib yang telah diterimanya baik berupa harta maupun
kehormatan.
b.
Musawwah
Musawwah
berasal dari bahasa arab yaitu sawwa, yang mempunyai arti sama atau dapat diartikan
juga sebagai mempersamakan keadaan yang serupa dengan yang lainnya. Perbedaan
penciptaan manusia bukan untuk tujuan saling menjatuhkan satu dengan yang
lainnya. Akan tetapi bertujuan agar saling mengenal dan menghargai satu sama lainnya.
c.
Sabar
Sabar
artinya tahan dari ujian, tahan
menderita, menerima apa yang tidak disenangi dengan perasaan rida dan
menyerahkan diri kepada Allah SWT. Setiap orang beriman pasti akan diberi
ujian, baik berupa kesenangan atau kesusahan. Dalam menghadapi ujian yang
berupa ketidaksenangan, kita harus menghadapinya dengan sabar. Karena hanya
orang yang sabar dapat mengatasi segala macam ujian, sehingga sampai kepada
yang dituju yaitu dari Allah SWT.
2.
Akhlak
Tercela
Akhlak
tercela adalah akhlak Madzmumah atau akhlak yang tidak terpuji. Akhlak tercela
ialah akhlak yang lahir dari sifat-sifat yang tidak sesuai dengan ajaran Allah
SWT. Misalnya:
a.
Hasad
Hasad
adalah suatu sifat dengki kepada seseorang atau perasaan tidak rela
jika orang lain mendapatkan suatu kenikmatan kebahagiaan, keberuntungan atau
karunia Allah SWT. Sifat dengki merupakan salah satu penyakit hati yang dapat
merusak kualitas amal ibadah seseorang. Sifat hasad merupakan sifat yang
mengandung kebencian terhadap orang lain, kebencian terhadap ketentuaan atau
ketetapan Allah SWT atas nikmat yang diberikan pada orang lain.
b.
Sombong
Sombong
atau takabur merupakan sifat tercela yang artinya merasa diri lebih baik, lebih
besar atau lebh tinggi dari orang lain, baik keduduka, keturunan maupun
lainnya. Jika sifat sombong terus merasuki jiwa seseorang, maka akan
menimbulkan sifat egois, membanggakan diri, tidak mau dikritik dan tidak mau
menerima saran serta nasihat dari orang lain. Selain akan mendapatkan
kehancuran di dunia, orang yang sombong akan masuk ke dalam neraka jahanam.
c.
Tamak
Tamak
adalah sifat suka menumpuk harta dengan menghalalkan segala cara dan merugikan
orang lain. Sifat tamak merupakan sifat dari orang yang tidak puas serta
serakah terhadap harta atau kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepadanya.
Orang yang tamak, hidupnya tidak pernah tenang. Karena hatinya tidak pernah
bersyukur kepada Allah SWT.
B.
PESERTA DIDIK
1.
Pengertian Peserta Didik
Secara
etimologi peserta didik adalah anak didik atau indvidu yang mengalami
perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan serta
dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses
pendidikan.
Berdasarkan
hal tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap peserta didik memiliki
eksistensi atau kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah,
keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat.
Dengan
diakuinya keberadaan seseorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan
keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan,
arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau kedewasaaan
sesuai dengan kedewasaannya.
2.
Karakteristik Peserta Didik
Karakteristik
peserta didik adalah keseluruhan kelakuan yang ada pada peserta didik sebagai
hasil pembawaan dan lingkungan sosialnya sebagai menentukan pola aktivitas
dalam meraih cita-citanya.Dengan demikian penentuan tujuan belajar itu
sebenarnya harus dikaitkan atau disesuaikan dengan keadaanatau karakteristik
peserta didik itu sendiri.ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam
karakteristikpesesrta didik yaiyu
A.Karakteristik
atau berkenan dengan kemampuan awal.
Misanya:Kemampuan berfikir kemampuan
intelektaual.
B.Karakteristik
yang berhubungan latar belakang dan status sosial.
Misalnya:Kehiduapan dalam keluarga dan
sekitar lingkunganya.
C.Karakteristik
yang berkenan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian
Misalnya:sikap perasaan minat.
C. BIOGRAFI
1. Biografi
Al-Nawawi
Beliau
adalah Yahya bin syaraf bin hasan bin husain an-nawawi ad-dimasyqiy abu zakaria.Beliai
dilahirkan pada bulan muharram tahun 631 h di nawa sebuah kampung du daerah
dimasyq {damascus} yang sekarang merupakan ibukota sariah.beliau dididik oleh
ayah beluai yang terkenal dengan kesalehan dan ketaqwaan.beliau mulai belajar
di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran
sebelum menginjak usia baligh.
An-Nawawi
tinggal di nawa hingga berusia 18 tahun.kemudian pada tahun 649 h ia memulai
rihlah thalabul ilmi-nya ke dimadyq dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah
yang diadakan oleh para ulama kota tersebut.ia tinggal di madrasah
Ar-rawahiyyah di dekat Al-jami Al-umaiy.jadilah thalabul ilmi sebagai
kesibukaanya utama .disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam
sehari.ia rajin sekali dan menghafal banyak hal.ia pun menggungguli
teman-temannya yang lain.
Pada
tahun 615 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke
Medinah dan menetap disana selamasatu setengah bulan lalu kembali ke Damasyq.
Pada taun 665 H ia mengajar di Darul Hadist Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan
menolak untuk mengambil gaji.
Beliau
digelari Muhyiddin (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena
tawadhu’ beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh,
tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas
orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya.
Imam
Al-Nawawi adalah seorang yang suhud wara’ dan bertakwa. Beliau sederhana,
qanaah, dan berwibawa. Beliau menggunakn banyak waktu beliau dalam ketaatan
sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar
ma’ruf nahi munkar, termasuk terhadap penguasa, dengan cara yang telah
digariskan islam. Imam Nawawi meningalkan banyak sekali karya ilmiah yang
terkenal. Jumlahnya sekitar 40 kitab diantaranya:
a.
Dalam
bidang hadist : Arba’in, Riyadhus
Shalihin Al-Minhaj (Syarah shahih Muslim) At-Taqrib wat taysir fi ma’rifat
sunan Al-basyirin Nadzir.
b.
Dalam bidang bahasa : Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
c.
Dalam bidang akhlak : At-Tibyan fi Adab Hanalatil Qur’an, bustanul
Arifin, Al-Adzkar.
Kitab kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan
memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena
taufik dari Allah ta’ala, kemudian keihlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.
2. Biografi
Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid
Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul islam
(argumentator islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga islam dari
pengaruh ajaran Bid’ahdan aliran rasionalisme yunani. Beliau lahir pada tahun
450 H, bertetapan dengan 1059 M di Ghazalah suatu kota kecil yang terletak di
Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu
pengetahuan di dunia Islam. Beliau dilahirkan dari keluarga yang sangat
sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin woll sekaligus sebagai pedagang
hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunai semangat keagamaan yang tinggi,
seperti terlihat pada simpatinya kepada ulama yang mengharapkan anaknya menjadi
ulama yang selalu memberi nasehat pada umat. Itulah sebabnya, ayahnya sebelum
wafat menitipkan anaknya (imam Al-Ghazali)dan saudaranya (ahmad), ketika itu
masih kecil dititipkan kepada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk
mendapatkan bimbingan dan didikan. Meskipun dibesarkan dalam keadaan keluarga
yang sederhana tidak menjadikan beliau merasa rendah atau malas, justru beliau
semangat dalam mempelajari ilmu pengetahuan, dikemudian beliau menjelma menjadi
ulama besar dan seorang sufi.
Perjalanan imam Ghazali dalam melalui pendidikannya
diwilayah kelahirannya. Pada ayahnya beliau belajar Al-Quran dan dasar-dasar
ilmu keagama yang lain, dilanjutkan di Thus dengan mempelajari dasar-dasar
pengetahuan. Setelah beliau belajar pada teman ayahnya (seorang ahli tasawuf),
ketika beliau tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan keduanya, beliau mengajarkan
mereka masuk ke sekolah untuk memperoleh selain ilmu pengetahuan. Beliau
mempelajari pokok Islam (al-qur’an dan sunnah nabi). Diantara kitab-kitab karya
beliau antara lain:
a. Ayyuhal
Walad
b. Bidayatul
Hidayah
c. Minhaj
Al-Abidin
d. Mizan
Al-Amal
e. Ihya
‘Ulumuddin
BAB III
MENURUT AL-NAWAWI DAN AL-GHAZALI
A.
Akhlak Peserta Didik Terhadap Pendidik Meburut Al-Nawawi
Pemikiran Al-Nawawi tentang akhlak peserta didik terhadap pendidik
sebagai berikut:
1.
Menahan
dari kekerasan atau marahnya pendidik.
2.
Menolak
gunjingan terhadap pendidiknya jika mampu, bila tidak mampu hendaknya
meninggalkan majelis tersebut.
3.
Bersikap
tawadhu’(rendah diri) terhadap pendidik dan terhadap ilmu.
4.
Tidak
masuk ruangan pendidik sebelum meminta izin.
5.
Ketika
peserta didik menemui terhadap pendidik, hendaknya ia dalam keadaan yang sempurna
budi pekertinya, yaitu dengan bersuci menggunakan siwak.
6.
Peserta
didik tidak diperbolehkan melangkahi pundak atau lehernya orang-orang dalam
memindah tempat duduknya.
7.
Jika
orang lain mendahulukannya atau mengutamakannya maka janganlah menerima.
8.
Duduk
dihadapan pendidik sebagaimana duduknya orang-orang yang belajar bukan seperti
duduknya pendidik.
9.
Apabila
pendidik melakukan kekerasan (marah) terhadap peserta didik hendaknya peserta
didik meminta memulai meminta maaf.
10.
Apabila
hadir di majelisnya pendidik dan tidak menemuinya, maka harus menunggu dan
tetap tinggal di pintunya.
11.
Bersikap
ta’dzim (sopan santun atau beradap) terhadap pendidik.
12.
Peserta
didik tidak boleh mengeraskan suara tanpa ada keperluan.
13.
Hendaknya
peserta didik bersikap patuh terhadap pendidik.
14.
Wajib
bagi peserta didik ketika memandang pendidik dengan pandangan yang memuliakan
dan meyakini kesempurnaannya.
15.
Tidak
belajar kepada pendidik dalam kondisi hati yang sedang sibuk, jenuh. Hendaknya
peserta didik pergi belajar terhadap pendidik di awal siang.
B.
Akhlak Peserta Didik Terhadap Pendidik enurut Al-Ghazali
Menurut Al-Ghazali akhlak peserta didik terhadap pendidik sebagai
berikut:
1.
Mendahului
melakukan penghormatan dan mengucap salam serta meminta izin ketika akan
memasuki ruangan.
2.
Meminimalkan
pembicaraan yang sifatnya biasa dihadapan pendidik.
3.
Tidak
membicarakan apa yang tidak ditanyakan oleh pendidik.
4.
Meminta
izin terlebih dahulu sebelum menanyakan sesuatu hal kepada pendidik.
5.
Ketika
mendapat ketidaksesuaian dalam keterangan yang disampaikan pendidik, maka
peserta didik tidak mengatakan : “ Seseorang mengatakan tidak sama dengan
ucapanmu “.
6.
Tidak
menunjukkan perbedaan pendapat kepada pendidik sehingga peserta didik mengira
bahwa ia lebih mengetahui perkara yang benar dalam suatu permasalahan. Hal ini
mengurangi nilai tata krama terhadap pendidik dan mengurangi barakah.
7.
Tidak
bertanya atau tidak mengobrol dengan teman duduk di majelis pendidik, dan tidak
tersenyum ketika pendidik berbicara.
8.
Tidak
menoleh kemana-mana, ke kanan dan ke kiri di hadapan pendidik, melainkan duduk
dengan menundukkan pandangan, bersikap tenang, bertata krama, dengan tidak
bermain-main dengan tangan misalnya, seakan-akan berada dalam sholat.
9.
Tidak banyak bertanya kepada pendidik
ketika tampak kebosanannya dan kerisauannya karena sedih meskipun hanya sebatas
praduga yang kuat.
10.
Apabila
seorang pendidik berdiri maka hendaklah peserta didik juga berdiri karena
menghormatinya dn peserta didik tidak boleh menarik pakaiannya ketika berdiri.
11.
Ketika
pendidik berdiri dari majlis, peserta didik tidak langsung menyuguhkan
pembicaraan dan pertanyaannya.
12.
Tidak
menanyai pendidik di tengan perjalanannya, melainkan menunggu sehingga pendidik
sampai di rumahnya atau tempat duduknya.
13.
Tidak berburuk sangka kepada pendidik,
dalam perbuatan-perbuatan yang secara lahiriah terlihat kurang baik menurut
peserta didik karena pendidik itu lebih mengetahui rahasia di balik
perbuatannya tersebut. Dan ketika akan
muncul buruk sangka di dalam hati hendaklah peserta didik mengingat ucapan Nabi
Musa kepada Nabi Khidir yang mengingkari sesuatu yang secara lahiriyah
kelihatan salah, yaitu merusakkan perahu yang dapat membahayakan jiwa
penumpangnya, “ Apakah engkau melubangi
perahu itu untuk menenggelamkan? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang
kontrofersial sekali”. Dan hendaklah peserta didik meyakini bahwa rasa
ingkarnya terhadap pendidik dengan hanya berpegang pada perkara yang tampak
secara lahiriyah itu merupakan kesalahan dan hendaklah ia mengingat-ingat bahwa
pendidik itu mengetahui rahasia di balik perbuatannya, sebagaimana diriwayatkan
bahwa Ibnu Araby pernah sholat lalu murid-muridnya melihat berkali-kalia
menggerakkan kakinya dalam sholat tersebut. Setelah selesai sholat mereka
bertanya, “ Mengapa engkau menggerakkan kakimu?”. Lalu beliau menjawab, “
Sesungguhnya Syaikh Fakhr ar- Razi sedang mengalami sakaratul maut, lalu
syaitan-syaitan segera melakukan usaha untuk mencabut keimanannya. Maka aku
mengusir mereka darinya dengan kakiku sehingga ia meninggal dalam keadaan
iman”.
C.
Analisa Akhlak Peserta Terhadap Pendidik Menurut Al-Nawawi dan
Al-Ghazali
Akhlak peserta didik terhadap
pendidik menurut Al-Nawawi dan Al-Ghazali ternyata dapat dikelompokkan dalam
beberapa tema akhlak sebagai berikut:
1.
Sifat
Sabar
Menurut Al-Nawawi yang termasuk sabar yaitu menahan dari kekerasan
atau marahnya pendidik. Apabila hadir di majelis dan tidak menemuinya, maka
harus menunggu dan tetap tinggal di pintunya. Menurut Al-Ghazali yang termasuk
sabar yaitu ketika pendidik berdiri dari majelis, peserta didik tidak langsung
menyuguhkan pembicaraan dan pertanyaan. Tidak menanyai pendidik di tengah
perjalanannya, melainkan menunggu sehingga pendidik sampai di rumahnya atau
tempat duduknya.
2.
Sifat
Sopan
Menurut
Al-Nawawi yang termasuk soapn yaitu ketika peserta didik masuk terhadap
pendidik hendaknya ia dalam keadaan sempurna budi pekertinya, yaitu dengan
bersuci menggunakan siwak. Tidak masuk ruangan pendidik sebelum meminta izin.
Peserta didik tidak diperbolehkan melangkahi pundak atau lehernya orang-orang
dan memindah tenpat duduknya, Duduk dihadapan pendidik sebagaimana duduknya
orang-orang yang belajar bukan seperti duduknya pendidik. Bersikap ta’dzim
(sopan santun atau beradap) terhadap pendidik. Peserta didik tidak boleh
mengeraskan suara tanpa ada keperluan. Menurut Al-Ghazali yang termasuk sopan
yakni Meminimalkan pembicaraan yang sifatnya biasa dihadapan pendidik,
Meminimalkan pembicaraan yang sifatnya biasa dihadapan pendidik, Meminta izin
terlebih dahulu sebelum menanyakan sesuatu hal kepada pendidik, Ketika mendapat
ketidaksesuaian dalam keterangan yang disampaikan pendidik, maka peserta didik
tidak mengatakan : “ Seseorang mengatakan tidak sama dengan ucapannya “,Tidak
menoleh kemana-mana, ke kanan dan ke kiri di hadapan pendidik, melainkan duduk
dengan menundukkan pandangan, bersikap tenang, bertata krama, dengan tidak
bermain-main dengan tangan misalnya, seakan-akan berada dalam sholat.
3.
Sifat
Rendah Hati (Tawadhu’)
Menurut
Al-Nawawi yang termasuk rendah hati yakni Bersikap tawadhu’(rendah diri)
terhadap pendidik dan terhadap ilmu, Wajib bagi peserta didik ketika memandang
pendidik dengan pandangan yang memuliakan dan meyakini kesempurnaannya, Menolak
gunjingan terhadap pendidiknya jika mampu, bila tidak mampu hendaknya
meninggalkan majelis tersebut. Menurut Al-Ghazali yang termasuk rendah hati
yakni tidak berburuk sangka kepada pendidik.
4.
Sifat
Tenggang Rasa
Menurut
Al-Nawawi yang termasuk tenggang rasa yakni Apabila pendidik melakukan
kekerasan (marah) terhadap peserta didik hendaknya peserta didik meminta
memulai meminta maaf, Tidak belajar
kepada pendidik dalam kondisi hati yang sedang sibuk, jenuh. Hendaknya peserta
didik pergi belajar terhadap pendidik di awal siang. Menurut Al-Ghazali yang
termasuk tenggang rasa yakni Tidak membicarakan apa yang tidak ditanyakan oleh
pendidik, Tidak menunjukkan perbedaan pendapat kepada pendidik sehingga peserta
didik mengira bahwa ia lebih mengetahui perkara yang benar dalam suatu
permasalahan.
5.
Sifat
Menghormati
Menurut
Al-Nawawi yang termasuk menghormati yakni Jika orang lain mendahulukannya atau
mengutamakannya maka janganlah menerima, Hendaknya peserta didik bersikap patuh
terhadap pendidik. Menurut Al-Ghazali yang termasuk menghormati yakni
Mendahului melakukan penghormatan dan mengucap salam serta meminta izin ketika
akan memasuki ruangan, Tidak bertanya atau tidak mengobrol dengan teman duduk
di majelis pendidik, dan tidak tersenyum ketika pendidik berbicara, Tidak banyak bertanya kepada pendidik
ketika tampak kebosanannya dan kerisauannya karena sedih meskipun hanya sebatas
praduga yang kuat, Apabila
seorang pendidik berdiri maka hendaklah peserta didik juga berdiri karena
menghormatinya dn peserta didik tidak boleh menarik pakaiannya ketika berdiri.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari bab-bab sebelumnya dan didasarkan pada rumusan masalah, maka
penulis dapat memberi kesimpulan sebagai berikut:
1.
Akhlak
peserta didik terhadap pendidik menurut AlNawawi adalah menahan marahnya
pendidik, menolak gunjingan, bersikap tawadhu’ (rendah diri), tidak masuk
ruangannya sebelum meminta izin, masuk terhadapnya dalam keadaan suci, memulai
meminta maaf, apabila ingin menemuinya dan tidak menemuinya harus menunggu,
sopan santun, tidak boleh mengeraskan suara tanpa ada keperluan, harus bersikap
patuh terhadapnya, memandang dengan pandangan mulia.
2.
Akhlak
peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Ghazali adalah mengucap salam dan
meminta izin ketika memasuki ruangannya, meminimalkan pembicaraan yang sifatnya
biasa, tidak berbicara yang tidak ditanyakan, meminta izin sebelum bertanya,
tidak menunjukkan perbedaan pendapat kepadanya, tidak bertanya atau mengobrol
dengan teman di majelisnya, bertata krama, menghormatinya, tidak menanyainya di
tengah jalan dan tidak berburuk sangka kepadanya.
3.
Analisa
akhlak peserta didik terhadap pendidik menurut Al-Nawawi dan Al-Ghazali
menyimpulkan beberapa tema akhlak yakni:
a.
Sikap
sabarsikap
b.
Sikap
sopan
c.
Sikap
rendah hati
d.
Sikap
tenggang rasa
e.
Sikap
menghormati
B.
Saran-saran
1.
Akhlak
yang baik harus dimiliki seseorang peserta didik, karena dengan akhlak yang
baik segala sesuatu akan bermakna dihadapan siapapun, terutama di era
globalisasi ini banyak pengaruh buruk yang masuk, maka dari itu perbaikilah
akhlak kita. Karena akhlak yang baik merupakan pondasi untuk menghindari
perbuatan negatif, seperti yang ada di zaman sekarang ini.
2.
Marilah
kita terapkan akhlak peserta didik terhadap pendidik dalam lingkungan belajar,
untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
C.
Penutup
Dengan memanjatkan rasa syukur terhadap allah, penulis dapat
menyelesaikan karya tulis Ilmiah ini. Penulis sadar karya tulis Ilmiah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Demi menyempurnakan karya tulis Ilmiah ini,
kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan. Akhir
kata, penulis hanya berharap semoga karya tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Syarafuddin, Yahya. t.t. Al-tibyan fi adab hamalat al-Quran
al-Ma’had al-Islam salafi.
Muhammad Al-Ghazali, Abu Hamid,t.t. Bidayatul Hidayah.
Surabaya: al-Miftah.
Nipan Abdul Halim, Muhammad. 2000. Menghias Diri dengan Akhlak
Terpuji. Yogyakarta : Mitra Pustaka.
Nuru Sobai, Ali. t.t. Aqidah Akhlak. Depok: CV Arya Duta.
BIODATA PENULIS
Nama Penulis :
FAJRIYA KUNIAWATI binti MUHAMMAD KASDAN
Tempat, Tgl Lahir :
Ponorogo, 30 Januari 1997
Pendidikan :
RA. Muslimat Sukosari
SDN II Sukosari
MTs Darul Huda (Pon.Pes Darul Huda Mayak
Tonatan Ponorogo)
MA Darul Huda (Pon.Pes Darul
Huda Mayak Tonatan Ponorogo)
Alamat : jl. Hj. Irsad no. 30 Sukosari Babadan
Ponorogo
Motto : Jadi orang penting itu baik, tapi lebih
penting jadi orang baik
0 komentar:
Posting Komentar